Ekspor Sepatu Indonesia Merosot Tajam

Bagikan:

Ekspor Sepatu

Ekspor Sepatu – Pada dasarnya, krisis ekonomi yang sedang dialami oleh Uni Eropa dan Amerika saat ini pastinya sedikit banyak mempengaruhi ekonomi global.

Salah satu industri yang terdampak oleh krisis ekonomi dan resesi ini adalah industri fashion, ini termasuk ekspor sepatu.

Hal ini karena Uni Eropa dan Amerika adalah beberapa negara tujuan utama sepatu ekspor dari Indonesia.

Hanya saja, seiring melemahnya ekonomi dari negara tersebut, permintaan terhadap sepatu pun jelas berkurang. Jelas, ini menjadi masalah bagi Indonesia.

Permintaan Ekspor Bisa Anjlok 50 Persen di Tahun 2023

Semenjak resesi menghantam Amerika dan Uni Eropa, permintaan terhadap ekspor sepatu dari Indonesia terus berkurang.

Hal ini ternyata diprediksi akan semakin parah di tahun 2023 mendatang, saat jumlah permintaan bisa berkurang hingga 50% besarnya.

Bahkan, sepatu bermerk seperti Nike pun terkena dampak yang cukup signifikan.

Padahal, menjelang libur Natal dan tahun baru, biasanya permintaan akan produk sepatu akan meningkat tajam. Hanya saja, sayangnya hal itu tidak berlaku untuk tahun ini.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia, Hariyadi Sukamdani pun memastikan jika puncak season ritel pada saat Natal tidak akan terjadi.

Tidak hanya di bidang ekspor sepatu, namun permintaan terhadap produk garmen lainnya pun kini berkurang hingga 30%.

Bahkan, pada tahun 2023 mendatang, permintaan ekspor terhadap benang pun akan berkurang.

Kabarnya, di tahun depan, beberapa negara di Amerika dan Uni Eropa lah yang akan menyasar Indonesia sebagai pasar ekspor untuk produk manufaktur seperti benang.

Krisis ekonomi dan resesi yang menimpa Amerika dan Uni Eropa ini memang mau tidak mau mengubah putaran roda ekonomi dunia.

Hampir semua negara bahkan kini sudah terkena dampaknya. Bahkan, China pun kini tengah mengalami masa sulit karena hal ini.

Sejauh ini, hanya ada beberapa negara Asia Tenggara yang masih bertahan, yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, dan juga Vietnam.

Hanya saja, kekuatan ekspor terbesar di Asia Tenggara hingga saat ini masih ada di tangan Vietnam.

Industri Ekspor Indonesia Kalah terhadap Vietnam

Di Asia Tenggara, industri ekspor sepatu Indonesia kini masih berada di bawah Vietnam.

Sedangkan di pasar ekspor global, Indonesia tahun ini berhasil menempati posisi keenam, empat tempat di bawah Vietnam yang menduduki posisi kedua.

Ekonomi negara Vietnam di bidang ekspor nyatanya memang masih sangat kuat jika dibandingkan dengan Indonesia.

Pada periode paruh pertama tahun 2022, yaitu pada bulan Januari hingga Juli, nilai ekspor Vietnam untuk produk sepatu adalah US $25.246.320.

Nilai tersebut berada di bawah negara China, yang menjadi pasar ekspor alas kaki terbesar dengan nilai US $46.053.600.

Lalu, Indonesia sendiri masih ada di peringkat keenam dengan nilai ekspor yang ada di angka US $6,165.241.

Maka dari itu, jelas sudah jika ekonomi Indonesia vs Vietnam di bidang sepatu ekspor memang masih sangat jauh.

Padahal dulu, Indonesia adalah salah satu pasar ekspor terbesar di Asia Tenggara untuk produk sepatu.

Alasan Indonesia Kalah dari Vietnam di Bidang Eksportir Sepatu

Meskipun kinerja ekspor Indonesia di bidang sepatu naik 28,9% di sepanjang 2022, namun itu tidak menghapus fakta jika Indonesia masih ada di peringkat enam.

Itupun di tahun depan permintaan akan sepatu akan turun hingga 50% akibat krisis global.

Salah satu negara Asia Tenggara lain, yaitu Vietnam, kini menjadi negara yang menjadi eksportir sepatu terbesar di Asia Tenggara.

Lalu, apa saja alasan yang menjadi penyebab Indonesia tertinggal oleh Vietnam di bidang industri ekspor sepatu?

Sebenarnya, ada beberapa alasan yang menyebabkan Vietnam masih perkasa di bidang ekspor produk sepatu hingga kini, berikut adalah alasannya!

1. Banyak Pabrik Sepatu Indonesia yang Pindah ke Vietnam di Masa Lampau

Pada dasarnya, salah satu alasan kenapa industri ekspor produk alas kaki Indonesia tertinggal oleh Vietnam adalah karena ada beberapa pabrik Indonesia yang pindah ke sana.

Hal ini berlangsung di masa lalu, ketika banyak pabrik yang kalah saing di bidang ini.

Penyebabnya adalah karena upah buruh di Vietnam yang lebih murah, sehingga pabrik yang kalah saing mulai banyak yang pindah.

Bahkan setelah inflasi Vietnam, upah buruh di Indonesia masih dianggap terlalu tinggi daripada upah buruh yang ada di Vietnam.

2. Vietnam Lebih Cepat Mengambil Keuntungan dari Isu Upah Buruh

Selain karena upah buruh yang lebih murah daripada di Indonesia, Vietnam juga mengambil keuntungan dengan cepat dari isu upah buruh yang ada.

Hal ini membuat banyak negara melirik Vietnam sebagai salah satu eksportir sepatu utama untuk negara mereka.

Di negara Indonesia sendiri, penanganan mengenai masalah ini mulai semakin stabil dari waktu ke waktu.

Setidaknya, kini penanganan terhadap masalah upah sudah lebih baik dari lima tahun lalu, dan lima tahun lalu sudah lebih baik dari sepuluh tahun lalu.

Kini, Indonesia masih ada di urutan keenam dengan share sebanyak 3,88%.

Hanya saja, dengan penanganan yang baik, industri ekspor Indonesia, khususnya untuk produk alas kaki, masih sangat bisa untuk dikembangkan lagi.

Meskipun isu krisis global dan resesi masih menghantui, namun tidak menutup kemungkinan jika di akhir tahun 2023 nanti posisi Indonesia akan semakin baik lagi.

Ruang untuk perkembangan itu masih ada dan masih sangat bisa untuk kita kembangkan.

Itulah kondisi industri ekspor sepatu Indonesia di akhir tahun 2022 dan menjelang tahun 2023. Semoga informasi ini bermanfaat!